Galery Automotive
Informasi Automitive

Tragedi Honda Jezz Matic di ITC Jakarta

ITC-Permata-Hijau-honda-jazz2ITC-Permata-Hijau-honda-jazz

JAKARTA—Nasib nahas menimpa keluarga Topan Rusli Afandi, 45, kemarin. Topan bersama istrinya, Trisna Triyana, 45, dan anaknya, Samuel, 12, tewas saat mobil Honda Jazz Hotam dengan nomor polisi B1793 EV terjun bebas dari lantai 6 ITC Permata Hijau. Kuat dugaan, Trisna yang mengemudikan mobil saat itu, baru belajar. Trisna diduga tidak kuasa melajukan mobil jenis automatic yang baru dua bulan dibelinya itu saat akan melalui jalur sempit,

tepatnya di putaran parkiran gedung ITC Permata Hijau. Sehingga, mobil yang dikendarainya terjun bebas dari lantai enam ke lantai dasar gedung tersebut. Akibatnya, Trisna bersama suami dan anaknya, tewas di tempat.

Keluarga Topan yang tercatat sebagai warga Kompleks Taman Asri, Cileduk, Tangerang itu, sebenarnya baru saja mengikuti kebaktian Kenaikan Isa Almasih di Gereja Kemah Abraham yang berada di lantai 7 gedung ITC Permata Hijau. Menurut saksi mata, Tunggul Pangaribuan,– salah seorang pengurus gereja, dirinya sempat memberikan ucapan selamat jalan kepada keluarga Topan agar mereka selamat sampai tujuan. ”Namun, tak lama melepas kepulangan mereka, saya mendengar suara kencang dari lantai bawah. Ketika saya tengok, ternyata mobil keluarga Topan yang telah jatuh. Atas kejadian itu, saya pun ikut shock,” ujar Tunggu kepada wartawan, kemarin.

Masih menurut Tunggul, diduga mobil yang dilajukan Trisna dalam posisi kencang di jalur putaran perpakiran gedung yang sempit, sehingga Trisna sulit mengendalikan kendaraannya. ”Terlebih setahu saya, Trisna baru belajar mengendarai mobil tersebut,” tambahnya.

Hal senada juga disampaikan pengurus gereja lainnya, Aladin Sirait. Menurut Sirait, satu keluarga nahas itu merupakan bagian dari keluarga jemaat gereja yang berjumlah sekitar 400 orang. Acara kebaktian Kenaikan Isa Almasih itu baru digelar pukul 10.00 dan berakhir pukul 12.00. ”Namun, keluarga tersebut memilih untuk tidak pulang lebih dulu karena menunggu parkiran sepi. Karena sepi itulah, diduga korban melajukan kendaraannya sedikit kencang. Karena baru belajar, maka korban tidak mampu menguasai laju kendaraannya,” ucapnya, sedih.

Kapolsek Kebayoran Lama Kompol Priyono yang tiba di lokasi menegaskan, dugaan sementara memang disebabkan korban Trisna tidak kuasa melajukan kendaraannya saat akan melewati jalur sempit perputaran parkir gedung.

”Karena Trisna masih dalam tahap belajar, maka ia sempat kaget saat melajukan kendaraannya dalam jalur yang sempit dari lantai tujuh hingga ke lantai enam. Saat dilantai enam itulah Trisna panik membanting setir dan menabrak tembok pembatas setinggi satu meter, hingga akhirnya terjun bebas dengan posisi pantat mobil yang lebih dahulu terjatuh,” ujar Priyono menjelaskan kronologis jatuhnya mobil itu.

Saat terjatuh, Trisna masih bernapas. Namun, saat akan dievakuasi keluar dari mobil oleh beberapa satpam dan pengunjung ITC, Trisna mengembuskan napas terakhir menyusul suami dan anaknya yang lebih dahulu tewas. Ceceran darah masih terlihat di sela-sela mobil, berikut pula beberapa sepatu milik korban yang masih tertinggal di dalam mobil. Seluruh korban dibawa ke kamar jenazah RSCM untuk diautopsi. Rencananya, seluruh jenazah akan disemayamkan di rumah duka, Jumat, hari ini.

Sementara itu, Sales and Marketing General Marketing, Honda Prospect Motor (HPM), Jonfis Fandy mengatakan, pihaknya yakin kecelakaan itu terjadi akibat human error, bukan persoalan teknis mobil Honda. Menurutnya, mobil Honda Jazz sudah dilengkapi sistem proteksi untuk meminimalisir terjadinya kecelakaan. Rem cakram pada roda menghasilkan breaking yang maksimal, sehingga bisa dipastikan mobil akan berhenti jika pedal rem ditekan. ”Tapi kalau mau ngerem keliru nge-gas, ya sudah pasti tambah larinya,” tuturnya.

* Baru saja Say Hello

Nasib tragis yang menimpa keluarga Topan, ternyata melekat kuat di benak Tunggul Pangaribuan. Betapa tidak, Tunggul setelah memimpin kebaktian memperingati kenaikan Isa Almasih, masih sempat bertatap muka dengan korban sekeluarga. Posisinya di depan gedung serba guna, tempat berlangsungya kebaktian itu.

”Kami sempat say hello,” ujarnya di lokasi kejadian. Lantas keluarga itu naik ke dalam mobil Honda Jazz. Tetapi entah kenapa, mobil tersebut melaju menuruni lintasan berbentuk spiral itu dalam kecepatan tinggi.

”Lalu saya tahu mobil itu terjun,” ujarnya. Tunggul tidak menyangka bahwa tegur sapanya saat itu, merupakan salam perpisahan dengan korban sekeluarga.

* Konstruksi Bangunan Rapuh

Rapuhnya konstruksi tembok pembatas di gedung ITC Permata Hijau, juga disayangkan keluarga korban. Ternyata, tembok pembatas setinggi 1 meter dan lebar tidak lebih dari 20 cm itu, hanya merupakan plesteran bata yang tersusun rapi.

”Kami sangat menyayangkan tembok pembatas tersebut sangat rapuh. Sehingga mobil yang dikendarai korban, langsung jatuh. Andaikan konstruksi tembok itu ada besi betonnya, tentunya mobil akan tertahan dan tidak akan terjun bebas,” ujar Rini, kerabat korban.

Kapolsek Kebayoran Lama Kompol Priyono juga menegaskan, pihaknya akan mengusut lemahnya konstruksi bangunan itu. ”Ya, saya melihat bahwa temboknya tidak memiliki besi beton. Saya akan mempelajari hal tersebut, termasuk mengenai adanya kelalaian pihak pengembang yang menyebabkan kematian seseorang,” ujar Priyono.

Sementara General Advice ITC Permata Hijau Johny Lim, menerangkan bahwa pihaknya tidak bisa memberikan penjelasan secara detail mengenai konstruksi bangunan. ”Itu adalah wewenang developer,” ujar Lim.

Namun, Lim berjanji akan membicarakan lebih lanjut mengenai uang santunan ataupun biaya kerugian lainnya yang harus dijalankan sebagai kewajiban pihaknya. ”Yah, saya akan berbicara lagi dengan keluarga korban mengenai kewajiban yang akan kami lakukan,” ucapnya.

* ”Saya Duluan Ya…”

Kematian tragis yang menimpa keluarga Topan Rusli, sama sekali tak terduga.
David, 48, sahabat korban yang juga sesama anggota jemaat, bahkan mengaku baru beberapa menit bertemu dan dipamiti korban. ”Kami sama-sama habis kebaktian. Di pintu menuju parkir, dia sempat neriakin; “Saya duluan ya… Eh, benar-benar duluan akhirnya,” ungkap David di sela-sela mengantar jenazah korban di ruang Pemulasaraan Jenazah RSCM, sore kemarin.

David mengisahkan, beberapa saat setelah mobil Honda itu berlalu dari areal parkir, ia juga ikut melaju ke luar dengan mobilnya. ”Saya nggak lihat gimana jatuhnya. Tapi, saya tahu persis mobil korban berada di depan saya. Percaya nggak percaya, saat belok di lantai enam, saya lihat pagar pembatas jebol. Waduh, mobil Afandi jatuh ini, pikir saya,” Ungkap dokter atlet tinju ini menceritakan detik-detik kejadian.

Wajah pilu penuh ketidakpercayaan juga tampak jelas di wajah pasangan Suhandi, 74, dan Yanti, 70. Kedua pasangan yang sudah tua ini adalah orang tua Trisna. Setibanya di kamar jenazah RSCM, Suhadi tak kuasa menahan tangis. Lebih haru lagi saat jenazah anak, menantu, dan cucunya diperlihatkan. Dengan suara tangis yang semakin keras, Yanti nyaris tak sadarkan diri. ”Maafkan kesalahan ibu nak, pergilah dengan damai,” ucap Yanti lirih, sembari terus memeluk jenazah anaknya.

Ibu lima anak ini menuturkan, dia terakhir mendengar suara putri keduanya itu, dua hari lalu. Saat itu, sang putri menelepon dan menanyakan kabar kesehatan dan kondisi keuangan ibundanya. ”Dia tanya saya, masih ada uang nggak, gitu. Dia juga cerita kalau sudah bisa nyetir sendiri mobil barunya,” ujar Yanti, sambil menghapus air matanya. (dil/dni/wir/did)

%d bloggers like this: